Wawancara dengan Calon Sultan Banten Tubagus Ismetullah Al Abbas, Ahli Waris Kasultanan Banten Ke XII

“Saya Mimpi Keraton Surosowan Banten Berdiri Kembali!”

Begitu memasuki kawasan Banten lama, terlihat reruntuhann bangunan besar. Bangunan itu terlihat hancur dimakan usia. Masih terlihat bekas pintu gerbang yang melengkung. Tembok berbentuk segiempat itu berwarna kusam, ditumbuhi lumut kecoklatan. Sekilas seperti bangunan yang tak berguna, dibiarkan merana.

Tulisan di depan onggokan batu bata itu yang menjelaskan perihal gedung tua tadi. Terpasang papan nama bertuliskan” Benteng Surosowan”. Jika masuk ke dalam, sejauh mata memandang hanya semak belukar tak beraturan. Masih tersisa bekas lantai, tangga istana, pondasi bangunan dari batu bata merah.

Kondisi memprihatinkan tersebut yang membuat Tubagus Ismetullah Al Abbas , Ahli Waris Kasultanan Banten Ke XII merana. “Saya ingin melihat Keraton Surosowan dibangun dan berdiri lagi. Saya bermimpi seperti itu, tapi belum menjadi kenyataan,”ujarnya dengan mata berkaca-kaca, pandangan matanya menatap ke langit yang tanpa batas.

Suasana wawancara dengan Ismetullah pun hening sejenak. Ketua Badan Kegiatan Kesejahteraan Sosial Propinsi Banten (BK3S) ini permisi masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian keluar sambil menenteng songkok berwarna hitam dan kaos oblong masih terbungkus plastik. Songkok itu tengahnya bergambar sebuah logo berwarna merah. Sedang kaos oblong putih bergambar menara masjid Banten. “Coba dulu songkoknya, kekecilan apa tidak!”, ujarnya.

Pemilik Yayasan Sultan Maulana Hasanudin ini menjelaskan, ”Songkok dan Kaos ini adalah hasil kerajinan saya sendiri. Lambang di tengah songkok yaitu kupu-kupu yang dimodifikasi menjadi lukisan. Simbol-simbol ini ada di masjid Agung Banten”.

(Percakapan lalu dilanjutkan dengan iringan suara jengkerik dan desingan suara nyamuk. Ismet menemui di beranda rumah memakai kaos putih dan kain sarung. Dia sebenarnya menawarkan masuk ke dalam rumah. Tapi karena malam itu cuaca terasa panas, maka mengobrol di beranda depan. Di sudut halaman, di regol beberapa orang sedang asyik berbincang-bincang )

Berapa sebenarnya luas keraton Surosowan?
Jadi begini, wilayah keraton luasnya 99 hektar. Makanya ada kampung Kesatrian, tempat prajurit-prajurit. Ada juga yang namanya kampung Kebalen, orang-orang Bali. Ada kampung Persia, orang-orang Persi dan arab. Ada lagi kampung Pamarican, dulu tempat jual beli rempah-rempah. Adalagi kampung Kradenan, mungkin dulu tempatnya Raden-Raden.

Apakah ada peninggalan berupa buku atau kitab yang menggambarkan keraton Surosowan?
Tidak ada!Gambarnya masih ada di Belanda. Sebetulnya tidak sulit, tinggal datang ke Belanda minta kitab-kitab peninggalan kerajaan Banten yang dibawa ke sana. Jika pemerintah mempunyai political will tinggal datang saja ke Nederland. Cuma persoalannya pemerintah Belanda juga tidak dengan mudah memberikan begitu saja pada pemerintah. Kecuali jika disamping pihak pemerintah juga didampingi ahli warisnya.

Apa sebenarnya akar masalahnya sehingga rekonstruksi terkatung-katung?
Masalahnya pemerintah daerah yakni eksekutif dan legislatif ragu dengan persoalan rekonstruksi. Bagaimanapun perlu ada kebijakan pemerintah untuk mengurus rekonstruksi. DPRD Banten tidak memiliki kemauan dan pemdanya juga ragu-ragu. Seolah-olah dengan munculnya Sultan Banten seperti ganjalan, jangan-jangan wibawanya kurang. Mereka khawatir kekuasaan Sultan bisa terlalu besar. Padahal pemikiran semacam itu sangat kerdil. Padahal hal ini adalah kebanggan nasional.

Bayangkan tahun 1600-an telah mengirim duta besar dari Banten ke Inggris. Apa tidak sayang asset nasional bahkan internasional dibiarkan terlantar tak terurus? Saya kira pemerintah pusat juga harus memperhatikan kondisi istana yang berantakan.

(Obrolan terhenti sejenak, satu diantara Kakak Ismet datang memberitahu ada temannya yang mneinggal dunia dalam bahasa jawa Cirebonan-Serang)

Apakah anda pernah menemui pejabat pemerintahan sekelas Presiden?
Dulu ketika Gus Dur menjadi Presiden, saya pernah menghadap beliau. Saya masih ingat diterima pukul 06.00 pagi , setelah Gus Dur selesai olah raga keliling istana. Gus Dur juga merespon dengan baik. “Saya akan datang ke masjid Agung Banten”, ujar Gus Dur saat itu. Cuma sayang kurang satu bulan ketika akan berkunjung ke Banten , Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan. Mudah-mudahanya Gus Dur masih ingat dengan janjinya itu.

Apa saja yang akan dibangun?
Saya adalah salah satu penanggung-jawab rekonstruksi Kesultanan Banten. Ketuanya adalah Prof. Dr. Ima Tehami, rektor IAIN Maulana Hasanudin. Kita mempunyai konsep akan merekonstruksi kultural dan struktural.

Rencananya yang akan dibangun hanya Keraton Surosowan. Keraton itu bukan berarti tempat tinggal Sultan, tapi kantornya Sultan, kantor masyarakat. Jadikanlah kajian islam disitu. Banten mempunyai ulama besar Syaikh Nawawi Al Bantani.

Saya memimpikan Banten menjadi seperti itu. Ketika keraton dibangun, wisatawan dari penjuru dunia akan berdatangan. Wisatawan dari Belanda, Cina atau Persia datang untuk bernostalgia mengenang nenek moyangnya. Dibangun kampung-kampung seperti jaman dulu seperti Cina, Persia atau Arab. Kedatangan wisman itu akan menambag PAD daerah. Ternyata PAD terbesar diperoleh bukan dari Anyer atau Carita tapi dari tempat-tempat ziarah.

Tapi masih ada pro kontra diantara kerabat Kesultanan Banten sendiri. Saya juga bingung kenapa di wilayah Kerajaan selalu ada ribut-ribut dulu . Misalnya di Solo ada dua raja, demikian pula di Cirebon muncul 2 Sultan yang rebutan pengaruh. Kisah mirip-mirip seperti itu sedang terjadi di Banten.

Langkah-langkah apa yang telah dilakukan?
Kita pernah studi banding ke Kalimantan Timur, Kutai Kertanegara dan Cirebon, Keraton Kasepuhan. Selama ini kita hanya ketemu-ketemu saja, silaturahmi.

Bagaimana pula rekonstruksi dari segi budaya?
Kita menggali kembali budaya atau tradisi yang diwariskan oleh para Sultan Banten jaman dulu. Ada tradisi seperti panjang mulud. Ada tradisi Marhabanan. Ada pula syawalan atau muharaman. Demikian pula debus, ternyata Ki Ageng Tirtayasa adalah pemain sekaligus pencipta debus. Persoalannya wilayah kasultanan sekarang telah menjadi sebuah desa.

Lalu bagaimana pula rekonstruksi struktural?
Secara struktural harus ada Sultan sebagai simbol budaya. Sehingga pemberdayaan budaya dan masyarakatnya, misalnya makanan khasnya, dll. Jika Banten Lama menjadi pusat budaya akan luar biasa seperti Yogya. Sehingga dari kunjungan dari wisatawan nusantara diharapkan yang datang tidak hanya dari masyarakat menengah kebawah.

Apa impian anda sebagai calon Sultan Banten?
Saya ingin melihat Keraton Surosowan dibangun dan berdiri lagi. Jika Gubernur sebagai simbol kekuasaan bergandengan tangan dengan Sultan sebagai sebagai simbol budaya akan menjadi kekuatan yang hebat. Sehingga bisa silaturahmi ke Kerajaan Brunei Darussalam, Arab saudi atau Inggris. Bisa menjalin kerjasama budaya atau ekonomi. Kemudian ditampilkan di keraton Surosowan yang megah. Saya bermimpi seperti itu, tapi belum menjadi kenyataan.

(Udara yang panas membuat nyamuk bergentayangan di beranda rumah menggigit badan. Ismet lalu mengajak masuk ke dalam rumah)

Untuk kilas balik, bagaimana kisahnya penemuan kembali istana Surosowan itu?
Ketika keraton Surosowan dan Masjid Banten ditinggalkan penghuninya menjadi hutan belantara dan semak-belukar. Dulu ada pohon beringin, pohon sawo. Dulu disini banyak hewan seperti ular, ayam hutan dan macan kecil sebesar kucing. Bahkan sampai tahun 2000 –an masih ditemukan macan kucing tadi.

Kemudian masyarakat melakukan pembersihan tahun 1942-1943. Dulu disini banyak hewan seperti ular, ayam hutan dan macan kecil sebesar kucing. Oleh seorang tokoh dengan memakai ilmu gaib, hewan berbisa seperti ular digiring menuju gunung Pinang. Tanpa dipegang dan disentuh ular itu kabur.

Dalam ensiklopedia Banten, ular tanah berasal dari Banten. Ular tanah sangat berbisa, jika menggigit manusia bisa menimbulkan kematian. Ular tanah ini setelah menggigit manusia akan dicari teman-temannya sesama ular untuk dibunuh. Kecuali jika ular itu telah menemukan air dan meminumnya.

Ada cerita mistis di seputar bekas keraton Banten ini?
Jika cerita tentang angker, disini ada namanya macan gaib bernama Si Kapuk dan Si Kumbang. Macan berwarna putih dan hitam itu ingon-ingon (peliharaan) Sultan pada masa lalu. Kita bisa ketemu bisa pas tengah malam, pukul 01.00 wib atau 02.00 wib di alun-alun Banten Lama. Kemudian membaca shalawat, macan itu akan muncul. Pernah ada orang yang tidak percaya. Dia mengatakan, “Masak usia macan berapa tahun?” Sehabis berkata seperti itu, tiba-tiba kesurupan.

Kejadian lain, sepasang suami istri ziarah ke makam Maulana Hasanudin. Sepulang dari ziarah setelah magrib sampai ke rel kereta api sekitar 500 meter dari makam, tiba-tiba istrinya tidak bisa bicara. Mereka balik lagi dan minta tolong pada ayah saya di masjid Agung Banten. Ayah saya kemudian masuk ke makam, ziarah sebentar, membawa air wasiat lalu diminumkan ke perempuan itu. Ajaib, seketika langsung bisa bicara.

Peristiwa gaib lain dilihat oleh kakak saya. Suatu malam, kakak saya melihat ada jamaah shalat pakai baju putih-putih di depan keraton Surosowan. Jamaah itu jalan ke sungai Kepandean lalu hilang.

Masjid Banten banyak dikelilingi kolam air, ada kisahnya?
Air wasit ceritanya air yang diwasiatkan di depan masjid. Dulu Banten sulit air. Sultan menunjuk dengan jari, air itu mancur begitu saja, sekarang dibuat sumur. Ketika musim kemarau, air wasiat ini tidak pernah kering.

Empat kolam di depan termasuk peninggalan Maulana Hasanudin. Biasanya kolam itu untuk mandi para habib dan orang lagi tirakat. Biasanya orang dari jauh mandi disitu. Mereka juga tidak mau wudhu di tempat wudhu yang biasa. Mereka lebih suka wudhu di kolam tersebut. Walau dulu airnya jelek, sekarang dipakai filter. Kisahnya dulu kolam itu tempat wudhu para waliullah.

Ada kolam juga di Pakuwon namanya Roro Denok. Kolam itu biasa dipergunakan juga oleh para peziarah. Tempat itu dulunya tempat mandi puteri Sultan. Katanya jika mandi di kolam itu bias awet muda dan bertambah cantik.

(Untuk pengambilan foto Ismet berganti baju koko berwarna hijau, memakai kain sarung warna kecoklatan)

Tag Pencarian: sejarah ular tanah banten, legenda ular tanah banten, ular tanah banten, misteri gunung pinang, ular tanah banten terbesar, sejarah gunung pinang, sejarah ular tanah di banten, silsilh ular tanah, tempat angker di gunung pinang, tempat-tempat mistis di banten lama, ular mistis di banten, ular tanah di Banten, sejarah ular tanah, sejarah ular sultan hasanuddin, sejarah gunung pinang dan harta nya, angker dimasjid banten, Sejarah gaib tanah banten, Babat tanah banten, cerita mistik surosowan, cerita mistis gunung pinang, cerita mistis ular besar jaman dulu, Cerita penunggu ghaib kerajaan yang melegenda di daerah banten, cerita ular tanah raja pahit serang banten, gunung angker di serang banten, legenda tanah banten, Makam di gunung pinang, Mitos keraton kaibon, mitos ular denok, ular tanah majapahit

TIDAK ADA KOMENTAR