Menanam Kepala Kambing

Di Jakarta yang serba materialis dan gemerlap ternyata masih menyisakan sebuah tradisi kuno. Sedekah bumi di ibukota? Tentunya suatu yang janggal karena di Jakarta sama sekali sudah tidak ada lagi persawahan yang ada hanya sawah beton. Padahal sedekah bumi biasanya adalah sebagai penghormatan untuk dewi sri atau dewi kesuburan yang dipercaya sebagai dewi pertanian. Ketika sudah tidak terdapat lahan pertanian yang tersisa, sedekah desa ini tentu sebagai sebuah penghormatan kepada tradisi leluhur.

Ritual tradisi sedekah desa yang sebenarnya justru lebih dekat dengan masyarakat pedesaan di jawa tengah ini dilakukan di kawasan Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur. Pondok Rangon adalah sebuah wilayah atau desa yang terletak di wilayah Jakarta Timur. Sebelah timur berbatasan dengan Bekasi dan sebelah selatan dengan Depok. Daerah ini memakai budaya Betawi tapi berbahasa Sunda.

Di Pondok Rangon ini masih terdapat tradisi sedekah desa atau sedekah bumi. Tradisi ini setiap tahun digelar di makam leluhur warga Pondok Rangon yakni makam keramat Ganceng dan makam keramat Embah Uyut Embah Kudung. “Sedekah bumi di makam keramat Ganceng diadakan pada hari Jumat terakhir di bulan Haji atau Dzulhijjah,”kata Boim Diman, sesepuh masyarakat Pondok Rangon.

Malam itu, sesuai tradisi yang turun temurun, disembelih 4 ekor kambing. Kelima kepala kambing diarak keliling desa. Masyarakat yang mengiringi berduyun-duyun sambil membunyikan berbagai alat musik tardisional. Kepala kambing itu disebarkan ke lima wilayah perbatasan Kelurahan Pondok Ranggon dengan sekitarnya. Di sudut-sudut desa Pondok Rangon, kepala kambing itu di tanam diiringi upacara ritual oleh sesepuh desa.Ganceng

Empat kepala kambing ditanam di pertigaan atau perempatan jalan seperti perbatasan di TPU Pondok Rangon, Makam Kramat Ampel, dan perbatasan wilayah DKI Jakarta dengan Jawa Barat. Kelurahan Pondok Ranggon memiliki 6 RW dengan 63 RT. Arak-arakan kepala kambing ini berakhir di Rawa Jemblung di danau Situ Baru, Jambore – Cibubur.

Dijelaskan Boim, awalnya sedekah bumi tata caranya adalah dengan menempatkan empat kepala kerbau di empat penjuru mata angin di perbatasan wilayah dan satu di tengah atau pusat (pancer) yang disebut dengan ajaran Papat Kalima Pancer. “Karena harga kerbau mahal, maka kepala kerbau diganti dengan kepala kambing,”ungkapnya.

Setelah mengarak kepala kambing, warga kembali ke lokasi sekitar makam Keramat Embah Uyut Embah Kudung. Di makam itu telah disiapkan nasi tumpeng raksasa serta sejumlah sesaji . Sesaji itu berupa lauk pauk seperti daging ayam dan nasi tumpeng. Tumpeng ini dibuat khusus dengan bagian puncak ditancapi dengan berbagai macam hiasan seperti cabai, bawang merah, sirih, gula merah, ikan asin, merang, daun kelapa atau daun aren, dan sepotong bambu yang masih muda. Selain itu juga jajanan pasar dan pisang emas. “Ini merupakan simbol adanya harapan supaya Tuhan melimpahkan rahmat dan keselamatan terhadap seluruh penduduk bumi,”urainya.

Setelah didoakan sesepuh desa, tumpeng dan beragam dimakan beramai-ramai oleh warga desa. Mereka juga lantas ramai-ramai berkumpul mengikuti pesta rakyat yang meriah. Biasanya dalam acara sedekah desa itu terdapat tari topeng, jaipongan, wayang golek, wayang kulit dan panjat pinang.

Spiritual

Lantas siapa sebenarnya tokoh yang bernama Ganceng? Menurut Boim, Ganceng adalah pemimpin spiritual atau sesepuh desa yang juga seorang juru kunci makam keramat Embah Uyut Embah Kudung. Saat Ganceng meninggal, sebagai juru juru kunci digantikan oleh mang Anda. Ketika mang Anda meninggal, juru kunci diganti kerabat Pondok Ranggon yang juga sesepuh kampung yaitu Boim Diman.

Boim
Boim

Siapa pula Embah Uyut Embah Kudung? Tokoh ini masih misterius asal usulnya. Boim hanya pernah mendengar cerita dari kakeknya bahwa Uyut diperkirakan ulama dari Cirebon yang datang di Pondok Rangon. Saat kerajaan Cirebon berjaya, banyak ulama-ulama yang dikirim ke betawi untuk berdakwah. Apalagi betawi waktu itu bernama Sunda kelapa masih termasuk wilayah Kesultanan Banten.

“Makanya sampai sekarang setiap sedekah desa selalu diadakan pentas wayang kulit versi betawi karena dulu kegemaran Uyut. Wayang kulit ini memang berasal dari Cirebon cuma cerita dan bahasanya dari betawi,”urainya.

Dijelaskan Boim, wayang kulit betawi dibandingkan dengan wayang kulit jawa tengah lebih merakyat, sederhana, dan mementingkan keakraban dengan penontonnya. Wayang kulit Betawi biasanya membawakan cerita tentang kehidupan sehari-hari. Hal itu didukung oleh penggunaan bahasa Betawi, khususnya bahasa Betawi Ora. “Jadi cerita bukan dari kitab Mahabrata dan Ramayana,”katanya.

Satu hal lagi yang membendakan wayang kulit betawi dengan wayang kulit jawa tengah adalah lagu dan musik pengiringnya. Lagu-lagu yang mengiringi pergelaran wayang kulit Betawi adalah lagu-lagu Sunda. Disebut lagu-lagu Sunda gunung. Lagu-lagu itu sering pula dibawakan oleh topeng Betawi, topeng blantek, rebana biang, dan tanjidor. Lagu-lagu khas wayang kulit Betawi, misalnya : Jiro, Bendrong, Rinci-Rinci, Rayah-Rayah, Kekawen, Wewawangan, Karawitan Bata Rubuh, dan lain-lain.

Musik yang mengiringi wayang kulit Betawi disebut gamelan ajeng. Alat musik gamelan ajeng terdiri atas dari terompet kadang juga digunakan rebab, dua buah saron, gedemung, kromong, kecrek, gendang, kempul, dan gong.

Meski asal usul Uyut ini belum jelas, namun tidak mengurangi kemeriahan acara sedekah desa. Warga sudah sepakat bahwa Uyut adalah cikal bakal desa Pondok Rangon. Leluhur mereka sejak dulu untuk menghormati Uyut telah mewariskan acara sedekah desa ini.

Boim juga menerangkan dulu sedekah desa di kramat ganceng ini diisi dengan banyak doa-doa semacam mantera atau jampi-jampi dan sedekah.Kini seiring perkembangan Islam, diganti dengan kegiatan pengajian bapak-bapak pada malam Jumat dan ibu-ibu pada keesokan harinya.

“Bahkan dulu kegiatan sedekah desa dilakukan di atas kuburan. Kata orang-orang tua dulu , konon yang sudah meninggal ikut gembira dengan adanya acara pesta di atas makam,”katanya.

Ritual semacam itu, lama kelamaan semakin terkikis seiring dakwah islam yang gencar. Kini kegiatan berlangsung di luar komplek makam. Di luar komplek makam dibuat ruangan untuk pertemuan yang luas sehingga dapat menampung warga desa. “Dana untuk pembuatan balai pertemuan ini swadaya dari masyarakat,”ujarnya.

Bisa dipahami jika dana pembuatan sedekah desa dari warga. Dengan acara sedekah desa itu pendapatan warga meningkat. Begitu warga mengetahui akan ada acara sedekah desa, maka mereka berduyun-duyun memadati di sekitar makam.

Pada malam sedekah bumi, di areal makam ramai oleh warga sekitar dan pedagang makanan. Hal ini berbeda jika hari biasa, terlihat sepi dan senyap. Para pedagang juga tak luput ikut mengais rejeki dari sedekah bumi. Mereka berderet-deret berjualan aneka macam rupa barang dagangan. Berbagai macam dagangan yang dijajakan disana mulai dari kebutuhan dapur-perabot rumah tangga sampai kebutuhan anak-anak seperti hiburan dan permainan.

Dewi Sri

Menurut budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, sedekah bumi di Betawi merupakan tradisi warisan pra Islam. Sebelum Islam masuk ke betawi, orang betawi mengadakan upacara sedekah bumi ditujukan untuk Dewi Sri. Tokoh Dewi Sri ini dianggap Dewi kesuburan bagi pertanian.

Dewi Sri merupakan salah satu dari tiga makhlus halus, dua lainnya adalah Ratu Kidul untuk di laut dan Raksasa untuk di hutan. Hanya dua makhlus itu saja yang mendapatkan sesajen atau diupacarakan, yaitu Dewi Sri berupa sedekah bumi dan Ratu Kidul berupa nyadran (menghanyutkan sesajen dan kepala kerbau ke laut).

“Awalnya orang Betawi belum mengenal konsep ketuhanan. Konsep ketuhanan muncul ketika manusia Betawi menyadari bahwa kehidupan itu bukan di sawah, di hutan dan di laut saja. Ada kekuatan lain yang lebih besar dari itu semua. Kehidupan ada pada pengharapan tentang hidup dan mati. Disinilah muncul kesadaran orang Betawi tentang Tuhan yang disebut dengan Yang Kuasa,”katanya.

Setelah Islam datang dan menjadi agama yang dianut oleh orang Betawi, tradisi sedekah bumi masih dipertahankan walau hanya di tempat tertentu, begitu pula dengan nyadran. Karena proses akulturasi Islam, upacara sedekah bumi dan nyadran bukan lagi ditujukan kepada Dewi Sri atau Ratu Kidul, tetapi ditujukan kepada Allah , Yang Kuasa.

Dipaparkan Yahya, penduduk Pondok Rangon menyebut dirinya sebagai orang sunda, bukan betawi. Adat istiadat penduduk asli Pondok Rangon bercampur dengan adat sukun jawa. Adat warga Pondok Rangon masih banyak pamali atau pantangan. Pantangan itu misalnya dilarang makan nasi bercampur daun singkong. Ada lagi pamali yang mirip dengan tradisi jawa , seorang gadis tidak boleh duduk di depan pintu yang konon bisa menyebabkan orang yang akan melamar batal tanpa sebab.

Tag Pencarian: sejarah makam keramat ganceng, rawa jemblung, pesta ganceng, fakta pasar ganceng, bulan brp pesta ganceng, sejarah kramat ganceng, misteri rawa jemblung, pasar ganceng, pemakaman keramat ganceng, nama makam di makam keramat ganceng, pesta adat daerah ganceng, pesta ganceng kranggan, riwayat kramat ganceng youtobe, sejarah keramat bambu kuning pondok rangon jaktim, sejarah keramat ganceng, misteri pasar ganceng, misteri makam mbah ganceng, misteri keramat ganceng, awal mula pesta ganceng, cerita mistis TPU pondok ranggon, kepercayaan masyarakat pondok rangon, Kramat makam mbahuyut mbah kudung, Kuburan Ganceng, makam keramat di cibubur, makam keramat ganceng, makam kramat ganceng pondok ranggon, makam mbah ranggon, mandi hj ganceng josh, mbah kudung, misteri danau jemblung

TIDAK ADA KOMENTAR