Disembunyikan Gus Dur Di Makam Wali

Ketika Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Ketua Umum PB NU, seseorang yang mengenakan blangkon selalu mengikutinya. Penampilannya yang khas, blangkon dengan baju “surjan” menyita perhatian orang sehingga mudah dikenali.

Dialah Al Zastrouw Ngatawi yang dikenal sebagai ajudan pribadi Gus Dur. Zastrouw demikian panggilannya selalu menyertai Gus Dur kemana saja. Kenangan pada Gus Dur bagi Zastrouw begitu melekat sehingga beberapa tahun lalu meluncurkan buku Gus Dur Siapa sih Sampean?.

Mengingat Gus Dur membuat mata Zastrouw berkaca-kaca, dia ingat pada saat-saat awal berkenalan dengan Gus Dur. Saat rejim orde baru berkuasa, Zastrouw masih tercatat sebagai mahasiwa yang juga aktivis mahasiswa. Akibat gerakannya yang menentang rejim Soeharto membuat dirinya dikejar-kejar aparat.

Dalam kondisi dicari-acari aparat itu, Gus Dur yang menyelamatkan dirinya dan teman seperjuangannya. Dia dan beberapa temannya disembunyikan Gus Dur di makam-makam wali atau ulama. Makam-makam wali yang sekiranya luput dari pengintaian aparat menjadi tempat sembunyinya selama beberapa minggu atau bulan. Selanjutnya secara bergilir makam-makam itu dijadikan tempat sembunyi.

“Gus Dur kadang mengantar kami ke makam-makam wali itu. Atau kami datang ke makam itu sendiri , lalu beberapa hari kemudian Gus Dur datang menjemput atau mengantar makanan. Misalnya kami sembunyi di makam mbah Mutamakin Pati atau makam ulama yang lokasinya terpencil, namun Gus Dur mengetahui tempatnya,”kisah Zastrouw ketika ditemui di gedung PB NU, Kramat, Jakarta Pusat.

Waktu itu. sebagai anak pesantren dari Pati, selain sembunyi, Zastrouw sekalian menziarahi makam wali itu. Dia bersama teman-temannya sehari-hari makan, minum tidur di makam itu. Setiap malam mereka tak lupa membaca tahlil dan dzikir di makam itu.”Kami sekaligus beribadah “,tandasnya.

Zastrouw mengakui pernah mengalami kejadian mistis di sebuah makam di kawasan Ujung Kulon, Jawa barat. Ketika dalam kondisi antara sadar dan tidur, dia merasa didatangi tiga orang memakai jubah. Ketiga sosok itu memandang dirinya , menganggukkan kepala sambil tersenyum. Lalu Zastrouw tersadar, ketiga sosok itu lenyap.

Ketika bertemu Gus Dur, Zastrouw menanyakan arti mimpinya. Gus Dur menjelaskan mungkin ketiga sosok itu adalah Syekh Quro (ulama penyebar islam di Jawa barat), Prabu Siliwangi (raja Pajajaran) dan Kian Santang (anak Prabu Siliwangi yang beragama Islam).

“Dari beberapa lokasi makam wali yang untuk sembunyi , saya mengalami pengalaman mistis hanya seperti itu. Makam yang lain biasa saja, tidak ada peristiwa yang aneh,” paparnya.

Justru saat berziarah dengan Gus Dur di sebuah makam ulama di daerah Banjarnegara, Jawa Tengah, dia mengalami kejadian unik. Kala itu, Gus Dur dan Zastrouw sampai di suatu daerah di lereng gunung Dieng. Mereka mencari cari sebuah makam tua. Suasana sepi karena telah malam, penduduk sekitar tak terlihat berlalu lalang karena memang lokasinya di tempat terpencil.

Nah, ketika mereka masih kebingungan mondar-mandir mencari letak makam, muncul orang tua yang berjalan. Orang tadi berpakaian layaknya petani, memakai peci hitam. Mengetahui mereka terlihat bingung, orang tua itu menanyakan apa yang mereka cari.
Lalu Gus Dur menceritakan sedang mencari makam seorang ulama. Orang tua tadi mengaku mengetahui letak makam tadi. Mereka lalu mengikuti langkah orang tua tadi menyusuri persawahan dan mendaki lereng. Usai berjalan sekitar setengah jam, orang tadi menunjukkan sebuah kuburan yang terletak di bawah pohon. Kuburan itu sudah tidak ada bekasnya, bahkan tidak nampak gundukan tanahnya. Orang tua tadi lalu pamit untuk meneruskan perjalanan.

Gus Dur membenarkan bahwa makam itu yang mereka cari. Letaknya jauh dari pemukiman penduduk di lereng pegunungan Dieng.”Aneh, baru beberapa menit orang tua itu berpamitan, dia sudah lenyap tak berbekas. Padahal kalau dia berjalan seharusnya masih terlihat”, ujar Zastrouw.

Zastrouw agaknya penasaran dengan kejadian aneh tadi, lantas bertanya pada Gus Dur.”Gus ,orang tua tadi siapa, kok tahu-tahu hilang begutu saja?”Gus Dur saat itu menjawab,”Orang tua tadi ya ulama yang kuburannya disini.” Mendengar jawaban Gus Dur tersebut, Zastrouw cuma diam seribu bahasa, dia merasa takjub karena baru saja mengalami peristiwa yang ajaib.

Halaman 2 : Amanah

Tag Pencarian: al sastrouw, zastrouw, zastrow al ngatawi, profil sastro al ngatawi, ngatawi al sastro, ngatawi al zastrouw, ngatawi al zastrow, ngatawi alzastrouw, profil sastro ngatawi, profil zastrouw ak ngatawi, riwayat pendidikan al zastrow, sastro al ngatawi, sastrow ngatawi, siapa al zastrouw, siapa zastrow, Ngatawi Al Sastraw, Ngastrawi al zastrouw, nama lengkap zastorw al ngatawi, al zastrowl, al-zastrow, biodata zastrouw al ngatawi, biodata zatro al ngatawi, Zasttouw Al Ngatawi, doktor al zastrouw, dr zastrouw, dr zastrouw al ngatawi, dr zastrouw kata kata, DR zastrow, drs zastrow al ngatawi, ki zastrouw al ngatawi

TIDAK ADA KOMENTAR