Arwah Istri Raffles Menyanyi di Kuburan Belanda Tenabang

Bulan purnama menghiasi langit di atas kuburan Belanda, Tanah Abang II, Jakarta Pusat. Kuburan Belanda yang dikenal dengan nama Taman Prasasti senyap, hanya terdengar bunyi jengkerik. Meski di sebelahnya terdapat gedung Walikotamadia Jakpus, namun suasana tetap terasa sepi.

Sekitar pukul 24.00 wib, petugas Museum, Aang sedang tiduran di kamarnya yang terletak di dekat pintu gerbang kompleks pekuburan. Matanya masih terpicing ketika sayup-sayup terdengar suara perempuan menyanyi. Telinganya dibuka lebar-lebar untuk menyakinkan pendengarannya. Dia semakin yakin memang terdengar suara perempuan melantunkan lagu dalam bahasa asing.

Pelan-pelan kakinya melangkat turun dari ranjang, lalu membuka pintu kantornya yang terbuat dari kayu tebal. Dia penasaran mendengar suara misterius itu. Pandangannya menyapu ke seluruh pekuburan. Tiba-tiba suara itu lenyap. Namun begitu dia akan masuk ke rumah lagi, terdengar suara nyanyian lagi lebih keras.

Aang lantas berbalik, berjalan perlahan menuju arah suara. Langkahnya menuju pinggir pagar yang dekat gedung Walikota. Pandangannya tercekat, langkahnya mendadak berhenti, tak terasa kakinya gemetaran. Samar-samar dia melihat bayangan seorang wanita berbaju putih, berkibar-kibar. Rambutnya yang panjang lepas tergerai. Perempuan itu cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia. Dia menyanyi sambil menari-nari mengelilingi nisan.

Mulut Aang komat-kamit berdoa sebisanya. Badannya semakin gemetaran ketika matanya menumbuk wajah perempuan itu yang trelihat putih pucat. Tanpa menunggu aba-aba, Aang balik kanan mengambil langkah seribu, kabur ke kamarnya.

“Saya benar-benar ketakutan malam itu. Tak menyangka saya melihat penampakan Madame Olivia Marianne Raffles. Tapi cuma sekali itu melihatnya, sampai sekarang tidak pernah lagi, “ujar Aang ketika ditemui di Museum Prasasti.

Olivia Mariamne Raffles adalah istri Thomas Stamford Raffles (gubernur Hindia Belanda pada masa pemerintahan Inggris 1811-1816 ), yang meninggal di Buitenzorg (Bogor) dalam usia 43. Jasadnya dimakamkan di Museum Prasasti. Kemudian Raffles mendirikan tugu kenangan baginya di Kebon Raya Bogor. Semasa hidupnya, istrinya dikenal sebagai pecinta tumbuh-tumbuhan. Dia juga pencetus pengembangan Kebun Raya Bogor.

Selain penampakan Madame Olivis, juga terdapat makam yang disebut-sebut bernama Kapiten Jas. Uniknya, makam kapiten Jas yang terletak di tengah museum dan di bawah pohon rindang, sejak lama diziarahi banyak orang. Bukan dari golongan Kristen saja, tapi juga penganut Islam.

Makam Olivia Mariamne Raffles
Makam Olivia Mariamne Raffles

Padahal, kapten Jas, menurut Dr FH de Haan dalam Oud Batavia sesungguhnya tokoh legendaris yang tidak pernah ada. Legenda ini muncul awal VOC sekitar 350 tahun lalu. Karena itu, orang yang meninggal dunia kala itu disebut naar kapiten Jas gaan (pergi ke kapiten Jas).

Bahkan terdapat seorang pengujung setia. Dia datang berziarah hampir tiap minggu. Sekalipun orang itu hanya sakit ringan, tapi karena yakin ‘kekeramatan’ Kapiten Jas, maka dirinya berziarah. “Banyak juga yang berziarah, saya juga heran,”cetus Aang.

Sampai tahun 1940-an Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat bernama Kerkhoflaan. Kerkhof dalam Belanda berarti kuburan atau tempat pemakaman. Di jalan ini terdapat kuburan besar untuk warga Kristen, yang kala itu luasnya 5,9 hektare.

Kuburan tersebut tinggal 1,2 hektare, setelah 4,7 hektare dijadikan gedung kantor Wali Kota Jakarta Pusat. Lahan bekas pemakaman warga Belanda ini pernah dikenal dengan sebutan Kebon Jahe Kober, dibangun pada 1795. Kebon Jahe Kober merupakan salah satu kampung yang agak kumah yang penghuninya sebagian besar etnis Betawi. Kampung ini letaknya bersebelahan dengan pemakaman.

Pada Juli 1977, gubernur Ali Sadikin telah menjadikannya sebagai ‘Museum Prasasti’, nama baru untuk sebagian pekuburan lama yang telah ditutup sejak 1975. Koleksi yang tersimpan di sini sebanyak 1.409, terdiri dari jenis prasasti bentuk nisan, tugu, monumen, piala, lempeng batu persegi, replika, miniatur, dan berbagai bentuk lainnya.

Menurut Alwi Shahab dalam tulisannya, bukan hanya warga ibu kota yang pernah dimakamkan di sini. Nama Mayor Jenderal JHR Kohler, bekas panglima Belanda pada Perang Aceh yang meninggal 14 April 1873 oleh para pejuang tanah rencong, pun ada. Berdasarkan tulisan, prasasti itu juga diambil dari berbagai tempat di Nusantara.

Sedangkan di antara tokoh pendidikan terdapat Dr HF Roll yang meninggal di Batavia 20 September 1935. Ia adalah pencetus gagasan dan pendiri Stovia (Sekolah Tinggi Dokter Indonesia) yang merupakan cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta Pusat. Sebelumnya FKUI ini bernama Sekolah Dokter Jawa yang didirikan 1851.

Di sini kita akan mendapati batu nisan mereka yang meninggal satu abad sebelum adanya pemakaman di Kebon Jaher Kober (dibangun 1795), seperti terpancang dalam prasasti DE Jaques de Bollan van Luik. Semasa hidupnya ia adalah pengurus rumah yatim piatu di Batavia dan meninggal pada 1684 dalam usia 71 tahun.

Terdapat juga makam MD Johan Maurits van Happel, kapten kaveleri VOC di Batavia, meninggal Juni 1690 dalam usia 36 tahun. Lalu Jacob van Almonde, kepala perdagangan pertama kastil (benteng) Batavia, lahir 31 Juli 1641, meninggal 1707.

Saat kuburan ini mulai berfungsi (1795), warga umumnya tinggal di pusat kota Pasar Ikan, Jakarta Utara. Pada masa itu, pemakaman ini terletak jauh di luar kota. Karenanya mayat-mayat dari rumah sakit (di depan stasiun Jakarta Kota sekarang), diangkut ke Kebon Jahe Kober dua kali sehari melalui perahu.

Dari kali Krukut (belakang gedung Departemen Penerangan, Jl Abdul Muis, Jakarta Pusat), peti jenazah diangkut ke pemakaman dengan sebuah kereta. Jaraknya sekitar 200 meter. Di museum prasasti ini kita masih mendapati kereta jenazah berwarna hitam.

Di sini dapat kita jumpai batu nisan Pieter Janse van Hoorn (1619-1682), istri, anak laki-laki dan perempuannya serta menantunya Kapten F Tack yang gugur di Kartasura, dekat Solo, Jawa Tengah. Perwira yang diunggulkan kompeni ini tewas di tangan Untung Surapati, bekas budak dari Bali dalam suatu pertempuran 1686.

Di antara ribuan batu nisan, juga terdapat direktur jenderal kompeni Belthasar Bort yang juga pemborong dari Belgia bersama sejumlah anggota keluarganya.

Di museum ini juga terdapat seorang ahli sejarah perpustakaan di Indonesia dan juga ahli kesusteraan Jawa Kuno. Ada pula ahli di bidang ephigraf, Dr JLA Brandes, yang telah banyak menguasai tulisan-tulisan yang terdapat di batu ataupun logam (prasasti). Sejak 9 Juni 1897, ia diangkat menjadi ahli perpustakaan pada Bataviasch Genootschap (Museum Nasional sekarang).

Halaman berikutnya –>> Pindahan dari kuburan Kota

Tag Pencarian: kuburan belanda tanah abang, istri gubernur raffles, suara raffles jakarta makam, rafles tanah abang, pemakaman warga kristen belanda, makam raffles, makam olivia marianne raffles, makam istri thomas raffles, makam belanda tanah abang, kuburan belanda tempo dulu, kelebihan kapiten jas, kaskus sejarah raffles, tulisan makam olivia raffles
Herbal Jeng Ana

TIDAK ADA KOMENTAR