Laku Prihatin Model Jawa Berkhasiat Pengobatan

Laku Prihatin yang sering dijalani orang Jawa, dalam telaah peneliti Belanda dan Spanyol ternyata mengandung muatan pengobatan, tidak saja ragawi, tetapi juga spiritual. Tidak tidur, misalnya, menahan kantuk di malam hari ini punya nilai baik bagi kekuatan batin agar lebih peka terhadap suara alam dan suara hati nurani.

Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa beberapa orang tertentu menderita sakit sesak napas. Orang ini kemudian mengikuti petuah para leluhur dengan mandi malam atau kungkum di malam hari yang disebut sebagai ‘tuk pitu’. Kemudian diselingi ‘tuk sewelas’, tuk tiga dan seterusnya. Penelitian dilakukan di wilayah Klaten Jawa Tengah yang banyak mempunyai sumber mata air, seperti Pluneng, Greneng, tuk Brondong dan lain sebagainya. Kurang dari setahun setelah melakukan ‘kungkum’ tersebut pada hari-hari baik menurut penanggalan Jawa orang itu dinyatakan sembuh dari penyakit sesak napas.Laku Prihatin - mistikindonesia.com

Laku keprihatinan Jawa seperti ‘nempur’ mandi di pertemuan tiga sungai di malam hari kelihatannya sederhana, dan aneh, tetapi dalam pengalaman nenek moyang itu merupakan laku pembersihan diri dan merupakan wujud pertobatan untuk mencari kesucian hati. Memang perlu disadari bahwa sungai di masa lalu masih bersih dan belum tercemar oleh limbah yang berbahaya. Tetapi sebenarnya ada makna yang lebih dalam dari sekadar mandi di sungai. ‘Nempur’ di tempuran sungai bukan saja berarti fisik, tetapi terlebih lagi bermakna spiritual. Aliran sungai atau air lambang sumber kehidupan. Sumber kehidupan alam raya ini tak lain dan tidak bukan yang mempunyai hidup. Yang mempunyai hidup adalah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu ‘nempur’ sesungguhnya menyongsong bantuan atau ‘pitulungan’ dari Yang Maha Kuasa. Itu bila dilihat dari sisi spiritual.

Dari sisi kesehatan arus air yang begitu deras dari tiga aliran sungai merupakan terpaan yang mempunyai ritme tertentu yang di kulit terasa seperti pijitan. Dan pijitan di waktu malam yang sangat dingin seolah seperti kejutan bagi tubuh manusia, ini biasanya membangkitkan simpul-simpul saraf yang sudah mulai kendor sehingga mulai peka lagi. Kejutan atau rangsangan terhadap sel saraf yang sudah mulai berkurang ini membuat sel tumbuh lagi dan berfungsi dengan lebih baik.

Penelitian di Inggris juga menyebutkan demikian. Bahwa sel-sel saraf mati yang membuat tubuh sakit bisa dirangsang dengan dihidupkan lewat kejutan seperti strom, atau pukulan, atau suhu yang bertentangan. Misalnya dari panas ke dingin atau sebaliknya. Oleh karenanya mandi malam, atau keramas di malam hari bisa juga merangsang saraf-saraf yang sudah mulai kurang peka. Sakit jantung, paru-paru, nafas dan penyakit dalam bisa disembuhkan dengan cara-cara laku keprihatinan seperti mandi malam, atau ‘kungkum’- ‘nempur’ dan sejenisnya.

Mandi ‘tuk telu; atau ‘tuk pitu’ ataupun ‘tuk sewelas’. Maksudnya adalah mandi dalam sumber mata air tiga, tujuh atau sebelas. Tiga dimaksudkan dengan kata jangkung, atau lindungan. Maknanya adalah memohon perlindungan Yang Maha Kuasa agar diberi keselamatan, dan cita-citanya dikabulkan. Sementara ‘tuk pitu’ adalam menyongsong pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa agar segala kesengsaraan di dunia ini dihilangkan. Demikian pula ‘tuk sewelas’ artinya memohon belas kasihan Tuhan Yang Maha Esa agar segala penyakit duniawinya disirnakan. Sukur kalau diberi kemudahan di dalam hidup dan kehidupannya.

Laku Prihatin Jawa penuh dengan kias dan semu, harapan dan doa. Oleh karena itulah bukan tidak mungkin penyakit yang menempel di tubuh pun bisa hilang dengan sendirinya kalau dilaksanakan dengan tekun dalam doa dan laku keprihatinan.

Orang Jawa menjalani budayanya dengan pemahaman tidak saja secara fisik, tetapi penuh dengan makna filosofi. Maka laku keprihatinan yang kerap dilakukan secara fisik seperti mandi ‘kungkum’ di hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon harus juga ditafsirkan secara simbolis.

Pembersihan diri itu sebagai simbol pembersihan hati. Kemudian mengapa harus mandi bunga? Diharapkan dengan mandi bunga manusia disadarkan kembali akan semboyan hidupnya yang berniat ‘nyebar ganda arum’. Maksudnya tentu ‘tyas manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama’. Sikap dan tingkah laku yang baik dan pantas menurut norma kehidupan Jawa. Berbicara dengan menarik dan berbobot, disertai tindakan yang baik dan menunjukkan keutamaan.

Dengan demikian laku keprihatinan Jawa sebenarnya bukan saja obat bagi raga manusia, tetapi juga jiwa yang haus akan kebaikan Tuhan.

Sumber : pos metro balikpapan

Tag Pencarian: mistik kejawen maret 2017