Mengenai manusia, masyarakat Jawa percaya bahwa manusia (dan segala hal yang ada di dunia) pada mulanya diciptakan oleh Hyang Kang Murbeng Jagad, yaitu yang mengatur dan memerintah dunia. Kehidupan manusia di dunia ini hanyalah sementara saja. Jika diibaratkan, kehidupan di dunia itu bagai seorang musafir yang hanya mampir sesaat untuk minum atau beristirahat. Artinya, kehidupan manusia di dunia ini bukanlah tujuan akhir. Walau begitu, orang Jawa percaya bahwa manusia juga mengemban tugas untuk berbuat sesuatu guna menyemarakkan dan memperindah dunia ini (hamemayu hayuning buwana). Setiap orang mengemban tugasnya dengan cara yang berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan yang ditetapkan oleh Sang Pencipta atas masing-masing orang. Ada yang menjadi petani, pegawai pos, lurah, polisi, administratur pemerintahan, dan lain-lain. Dengan bekerja sebaik-baiknya sesuai peran yang telah ditetapkan bagi masing-masing orang itu, seseorang berarti telah menjalankan tugas hamemayu hayuning buwana. Seiring dengan itu, manusia juga diharapkan agar menjalani hidup sesuai dengan hukum alam. Melawan atau terlebih lagi merusak tatanan alam hanya akan mendatangkan malapetaka saja.

Selanjutnya, manusia dalam pandangan Jawa terdiri dari dua unsur; unsur lahir dan batin. Unsur lahir adalah jasad manusia (badan wadhag). Sedangkan unsur batin manusia adalah jiwa (suksma). Keduanya, segi lahir dan batin, bersatu dalam diri manusia. Kita mengenal seseorang pertama-tama memang melalui segi lahir-nya yang berupa tindakan-tindakan, gerakan-gerakan, omongannya, dan sebagainya. Namun di belakang semua unsur itu, terselubunglah segi batin-nya. Dan segi batin inilah yang bagi orang Jawa merupakan realitas manusia yang sesungguhnya. Segi lahir manusia hanya merupakan ungkapan dari segi batin-nya.

Pandangan Jawa Tentang Manusia
src: sosiologisederhana.blogspot.com

Batin manusia pada hakikatnya bersifat alus. Sedangkan lahir itu kasar. Semakin unggul keadaan batin seseorang, semakin ia alus. Menurut Geertz, “alus berarti murni, berbudi halus, halus tingkah lakunya, sopan, indah sekali, lembut, halus, beradab, ramah. Sebaliknya, kasar berarti tidak sopan, tidak tahu aturan, tak beradab, ungkapan-ungkapan perasan hati yang spontan, dan lain-lain”. Segala manifestasi sifat-sifat kasar menunjukkan tingkat kesadaran diri yang masih dikendalikan oleh nafsu lahiriah; terikat dalam dunia lahir, kurang kontrol diri, dan tidak selaras. Sifat pamrih, yaitu sikap mengejar pemuasan dan kepentingan pribadi, hidup demi diri sendiri (keluarganya sendiri), dan mencari kekayaan serta kenikmatan pribadi, juga merupakan salah satu segi dari sifat kasar.

Lalu orang Jawa juga percaya bahwa pada dasarnya manusia memiliki hakikat ilahi. Hakikat ilahi manusia terletak dalam batin-nya. Tentunya kita ingat bahwa bagi orang Jawa, alam adikodrati – yang berada dibalik apa yang nampak merupakan realitas yang sesungguhnya. Sama halnya dengan pemahaman itu, batin (suksma) manusia merupakan realitas yang sesungguhnya, di mana ia merupakan bagian dari realitas tertinggi (Hyang Suksma), suksma merupakan ungkapan dari Hyang Suksma.

Sayangnya, tidak semua orang dapat menyadari kenyataan ini. Banyak yang menganggap bahwa alam lahir-lah kenyataan yang sesungguhnya dan satu-satunya sehingga pikiran mereka hanya dipenuhi dengan nafsu-nafsu lahiriah belaka. Agar manusia dapat melihat dirinya yang sesungguhnya, seseorang harus menembus masuk ke dalam batin-nya sendiri. Apabila ia telah berhasil mencapai batin-nya maka ia tidak saja akan menjumpai dan mengenali identitas asalinya, melainkan sekaligus menemukan dan menyatu dengan realitas Yang Ilahi – realitas yang sesungguhnya. Atau sebagaimana dikatakan Suseno, “lebih tepat dapat dikatakan bahwa ia merealisasikan kenyataannya sendiri yang sebenarnya sebagai Yang Ilahi.” Keberhasilan menembus batin ini biasa dikenal dengan sebutan ‘kesatuan hamba dengan Tuhan’ (pamore kawula Gusti atau manunggaling kawula Gusti). Melalui kesatuan tersebut orang Jawa percaya bahwa manusia telah mencapai kawruh sangkan paraning dumadi, yang berarti ‘pengetahuan tentang asal dan tujuan segala apa yang diciptakan’.

Adapun jalan yang harus ditempuh seseorang untuk dapat menembus batinnya sendiri lazimnya berupa melakukan serangkaian disiplin diri yang ketat seperti samadi (konsentrasi memusatkan pikiran), mengurangi makan-tidur, dan berpantang seksual. Dalam melakukan ini ia harus menyepi (tapa lelana brata) ke tempat-tempat yang cocok dalam waktu yang cukup lama. Tempat-tempat itu semisal puncak gunung, gua di hutan, mata air, sungai, dan tempat-tempat lain yang dianggap memancarkan energi-energi kosmis yang besar.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ide tentang manusia yang mencapai kawruh sangkan paraning dumadi merupakan cita-cita ideal bagi setiap orang Jawa. Figur manusia yang alus, sopan, tahu aturan, sabar, serta memiliki sifat-sifat seorang ksatria semisal ikhlas, mengekang rasa, tidak membalas penghinaan, berbelas kasih terhadap wong cilik – adalah beberapa sifat yang akan nampak apabila seseorang telah mencapai kawruh sangkan paraning dumadi.

Selain dari itu, yang tidak bisa dilupakan dalam konteks ini adalah bahwa orang yang telah menembus batinnya sendiri dan menyatu dengan realitas Yang Ilahi, akan memiliki kesaktian (kasekten) sebagai konsekuensinya. Ketika seseorang menjalani pertapaan, ia mengurangi atau menghentikan siklus biologis tubuhnya; seperti makan, minum, tidur dan berhubungan seks. Siklus-siklus biologis tersebut hanya merupakan keinginan atau tuntutan segi lahiriah dari diri manusia. Karena manusia cenderung untuk selalu memenuhi tuntutan-tuntuan tubuh jasmaninya tersebut maka manusia menjadi dikuasai oleh segi lahiriah-nya. Akibat dari itu, hakikat manusia yang sesungguhnya yaitu segi batinnya – tidak mampu lagi menguasai dan mengendalikan dirinya. Batin-nya dibiarkan mati, karena manusia lebih senang menjadikan keinginan-keinginan lahir-nya sebagai ‘tuan atas dirinya’.

Apabila seseorang mendambakan untuk mengenali dirinya yang sesungguhnya (hakikat manusianya), ia harus mampu untuk menahan atau mematikan segala tuntutan-tuntutan lahiriah-nya. Segera setelah manusia mampu melakukan ini, segala keinginan tubuhnya (lahir-nya) tidak mampu lagi berkuasa atas dirinya sehingga hakikat dirinya yang asali itulah (batin atau suksma) yang kemudian mengendalikan hidupnya. Karena batin atau suksma manusia merupakan ungkapan dari Yang Ilahi atau Hyang Suksma, maka manusia dalam puncak proses ini tak lain adalah Yang Ilahi itu sendiri sehingga dengan demikian ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan segala energi kosmis yang dahulu berada di luar kendalinya. Ibarat bendungan yang menahan air sungai dari segala penjuru untuk kemudian disalurkan sedikit demi sedikit ke persawahan, demikianlah seseorang yang telah menyatu dengan realitas ‘Yang Ilahi’, dapat mewadahi dan mengendalikan kekuatan-kekuatan kosmis. Atau ibarat lensa pembesar yang memusatkan cahaya matahari ke bawahnya sehingga muncul panas api, demikianlah seseorang memusatkan kekuatan-kekuatan kosmis sehingga mampu menghasilkan daya yang luar biasa besarnya.

Dari gambaran tersebut, kita dapat memahami mengapa orang Jawa gemar mencari elmu dan kasekten. Selain karena pertama, hal itu merupakan cita-cita ideal manusia Jawa, yaitu seorang manusia yang berbudi luhur, manusia dalam arti yang sesungguhnya, seorang manusia yang tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal dan ke mana tujuan hidupnya (sangkan paraning dumadi); yang kedua, segi konsekuensi dari pencapaian kondisi tersebut, yaitu kesaktian diri, juga diharapkan dapat membantu kepentingan-kepentingan pragmatis sehari-hari masyarakat Jawa, seperti misalnya mendatangkan hujan di musim kemarau agar sawah tidak mengalami kekeringan atau menolak wabah penyakit, dan lain-lain.

TIDAK ADA KOMENTAR