Orang Jawa dan Pandangannya Kepada Alam

Masyarakat dan alam merupakan lingkup kehidupan orang Jawa sejak kecil. Melalui masyarakat ia berhubungan dengan alam. Irama alam seperti siang dan malam, musim hujan dan kemarau sangat menentukan kehidupan dan seluruh perencanaan hidupnya. Dari pergaulannya dengan alam, ia mulai belajar bahwa alam bisa sangat mengancam namun juga sekaligus membawa berkat dan rasa aman bagi kehidupannya. Dari situ pula ia belajar bahwa dirinya bahkan seluruh eksistensinya tergantung dari alam. Melalui masyarakatnya ia belajar berhubungan dengan alam dan menyesuaikan irama kehidupannya dengan irama alam.

Ia belajar apa yang harus dikerjakannya pada saat-saat yang sesuai; kapan mulai membajak sawah, menanam dan menuai padi, dan seterusnya. Ia juga belajar bahwa ketekunan dan kerja keras dalam menggarap sawah tidak selalu berakibat langsung pada hasil panen yang baik. Kekuatan fisik, ketrampilan dan ketekunan hanya prasyarat saja. Selebihnya kekuatan alam sendirilah yang akan menentukan hasil panen mereka. Matahari, hujan, angin, hama, bencana alam banjir dan letusan gunung berapi adalah bagian dari kekuatan alam yang sangat mempengaruhi hasil panen dan itu semua di luar kendali manusia.Patung Dewi Sri - gambar dari mistikindonesia.com

Oleh sebab itu  sebagaimana halnya dengan masyarakat alam juga merupakan sumber rasa aman bagi orang Jawa. Hanya saja kekuatan alam dihayati sebagai yang bersifat paradoks; ia menentukan sekaligus keselamatan dan kehancuran manusia. Dalam alam ia mengalami betapa ia tergantung dari kekuasaan-kekuasaan adiduniawi yang tak dapat diperhitungkan, yang disebutnya sebagai alam gaib.

Dari kenyataan akan sifat paradoks alam tersebut, alam empiris  yaitu alam sebagaimana yang dapat diindera oleh manusia (matahari, hujan, hutan, gunung, sungai, dan lain-lain)  dianggap sebagai ungkapan dari alam gaib semata. Alam empiris adalah ‘apa yang nampak’. Sedangkan dibalik ‘apa yang nampak’ terdapat makna yang jauh lebih penting. Itulah yang disebut sebagai alam gaib; misteri yang melampaui sekaligus mewadahi alam empiris. Alam gaib inilah yang dalam pandangan dunia Jawa merupakan realitas yang sesungguhnya. Dan daripadanya pula manusia bergantung serta memperoleh eksistensinya.

Sebagai konsekuensi dari keyakinan tersebut, orang Jawa beranggapan bahwa di balik setiap benda-benda (demikian pula makhluk-makhluk) terdapat para ‘penunggu’ berupa roh-roh yang berpribadi. Para ‘penunggu’ tersebut sesungguhnya adalah personifikasi dari kekuatan adikodrati yang selalu berada dibalik apa yang nampak pada alam inderawi. Padi, gunung, hutan, air terjun, pohon beringin, mata air, keris, tongkat, desa, perempatan jalan, sumur, dan masih banyak lagi lainnya adalah tempat-tempat yang dianggap memiliki roh-roh ‘penunggu’ yang angker dan biasanya memiliki nama layaknya manusia saja. Sakit dan kecelakaan maupun juga sukses dan kebahagiaan dianggap disebabkan oleh para roh itu.

Agar kekuatan-kekuatan alam yang dipersonifikasikan dalam roh-roh penunggu itu tidak memberikan pengaruh buruk yang merugikan dirinya, justru sebaliknya, membawa berkah dan ketenangan maupun keberhasilan, maka orang Jawa pada waktu-waktu tertentu memberikan sesajen (berupa makanan dan kembang) pada tempat-tempat yang umumnya dianggap angker.

Seseorang yang tiba-tiba saja jatuh sakit tak lama setelah ia membangun kakus di halaman belakang rumahnya, misalnya saja, akan menganggap penyakitnya tersebut berasal dari para roh penunggu yang tidak senang jika ‘tempat tinggal’ mereka dijadikan kakus. Apabila si pemilik rumah tersebut ingin sembuh dari penyakit itu, ia harus memindahkan kakusnya atau jika tidak, ia harus memberikan sesajen di tempat itu agar para roh tersebut tidak marah dan mereka bersedia pindah ke tempat yang lain.

Demikianlah, dengan cara memberi sesajen orang Jawa berharap dapat menyelaraskan dirinya dengan kekuatan-kekuatan alam di sekitarnya. Jika keselarasan tercapai dan kekuatan alam (atau roh-roh) tidak menunjukkan murkanya, maka ia slamet. Segala kekuatan angker telah dijinakkan dan ia bisa menjalankan tugas-tugasnya dengan tentram dan bebas dari hal-hal yang tak diinginkan. Kegiatan melakukan prosesi ini secara lebih umum dikenal dengan istilah slametan.

Herbal Jeng Ana

TIDAK ADA KOMENTAR